Nama : Cindy Kezia Marcellina
Kelas : XII MIPA 09
No. Absen : 07
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas 2.2 Bahasa Indonesia mengenai materi teks cerita sejarah.
Surat dari Putri Jawa
21 April 1879, terdengar suara teriakan dan tangisan wanita yang berasal dari suatu rumah yang cukup megah pada zaman itu. “Ayo, Bu sedikit lagi,” kata salah seorang wanita di rumah itu yang membantu persalinan sang ibu. Sang Ibu kembali berteriak seraya berusaha mengeluarkan buah hatinya dari janinya. Setelah kurang lebih 12 jam, akhirnya lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Bayi perempuan yang cantik jelita itu adalah aku. Namaku adalah Raden Adjeng Kartini. Aku lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Hindia Belanda. Aku adalah cucu Pangeran Ario Tjondronegoro, seorang Bupati Demak. Aku adalah anak kelima dari sebelas saudara. Kakakku yang lain adalah Raden Ayu Tjokroadisosro dan Drs. R.M. Sosrokartono. Sementara adik-adikku di antaranya R.A Kardinah yang menjadi R.A Reksonagoro (Bupati Tegal), R.A Kartinah menjadi R.A Dirdjoprawito, R.M. Sosromuljono, R.A. Sumantri menjadi R.A Sosrohadikusumo, dan R.M Sosrorawito.
Aku
lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahku, R. M. A. A. Sosroningrat, pada
mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibuku bernama M.A. Ngasirah putri dari
Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono seoran guru agama di Teluwakur,
Jepara. Ayahku, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, memiliki dua istri. Peraturan
kolonial zaman ini mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.
Karena ibuku, M. A. Ngasirah bukanlah bangsawan, maka ayahnku menikah lagi
dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah
perkawinan itu, maka ayahku diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan
kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo pada tahun 1881.
Aku
adalah cucu Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak. Kakekku termasuk
generasi awal dari kalangan orang Jawa yang telah menerima pendidikan Barat dan
menguasai bahasa Belanda dengan sempurna. Kakekku menjadi bupati pada usia 25
tahun. Beliau adalah bupati pertama yang mendidik anak-anaknya dengan pelajaran
khas Barat, langsung dari seorang guru asli Negeri Belanda, baik laki-laki
maupun perempuan. Beberapa tahun sebelum meninggal, kakekku berpesan pada
anak-anaknya termasuk ayahku, “Anak-anakku, jika tidak dapat mendapat
pengajaran, engkau tiada akan mendapat kesenangan, keturunan kita akan mundur,
ingatlah”. Dan seluruh anak kakekku membenarkan apa yang diwasiatkan
ayahandanya.
Semasa
kecil, aku tidak hanya diasuh oleh ibunda Ngasirah, tetapi juga oleh Mbok Emban
Lawiyah. Sejak kecil, aku tumbuh tak seperti kebanyakan gadis bangsawan Jawa. Aku
memiliki jiwa gelisah dan rasa ingin tahu yang besar. Aku adalah anak yang
susah diatur. Sehari-hari aku sangat gesit, lincah, sekaligus pandai. Aku suka
bermain di kebun, meloncat-loncat, berlari-lari dan mudah bergaul. Ayah dan
kakak-kakakku memanggilku dengan sebutan “Trinil” yang berarti burung kecil
yang lincah dan cerewet. Namun ibuku, Ngasirah, tidak suka dengan julukan itu.
Ia suka marah kepada adik-adikku bila mereka ikut-ikutan memanggil Trinil atau
Nil. Sifat iseng ini dimiliki diriku dan saudara perempuanku.
Alkisah,
aku dan dua adikku diasuh pembantu bernama Ibu Sosro. Suatu hari, sang pembantu
yang mengantuk, memilih mengunci aku dan dua adikku di kamar, sedangkan ia
memilih tidur di depan pintu. Aku dan dua adikku berhasil menyelinap keluar
kamar lalu bermain di halaman. Ibu sosro terbangun dan marah, mengancam akan
mengadukan hal ini ke orangtua kami. Alih-alih jera, aku dan adik-adikku malah
membalas Ibu Sosro. Lumpang tempat Ibu Sosro menumbuk sirih dibubuhi merica.
Ketika ia mengunyah sirih mulutnya langsung panas seperti terbakar. Hal itu kembali
diadukan pada sang ayah.
Ketika aku berumur empat tahu, aku tidak diperbolehkan untuk tidur bersama ibuku karena dia bukan berasal dari keluarga bangsawan. Dan setelah ayahku menikah lagi, ibuku pun berstatus selir dan harus memanggil anak-anaknya sendiri dengan sebutan "ndoro" atau majikan. Sebagai selir, Ngasirah pun tidak berhak tinggal di rumah utama kabupaten, tetapi tinggal di bagian belakang pendapa. Namun, aku lebih sering memilih tinggal dengan Ngasirah dan menolak memanggilnya "Yu". Ibuku, Ngasirah, bahkan rela berjalan membungkuk saat melewati diriku dan duduk di bawah mengikuti cara hidup feodal Jawa dengan alasan hanya seorang selir. Hal ini membuatku merasa sedih dan merasa tidak adil melihat ibuku mengalami diskriminasi yang sangat kuat.
Semenjak
kecil aku selalu kagum dengan orang-orang yang dapat bersekolah tinggi.
Akhirnya pada tahun 1881, ketika aku berumur enam setengah tahun, aku
memutuskan untuk memberitahu ayahku bahwa aku ingin bersekolah. Aku keluar dari
kamarku dan berlari menuju ruang kerja ayahku. “Ayah, bolehkah aku ikut
bersekolah dengan kakak-kakakku? Aku juga ingin bisa membaca dan menulis
seperti mereka,” kataku pada ayah. Ia terlihat terkejut karena ucapanku.
“Kartini, anakku, apakah kamu benar-benar ingin pergi ke sekolah? Karena bagi
perempuan Jawa seperti dirimu, pendidikan resmi tidaklah wajib dan bahkan
dianggap tabu. Hal ini bahkan tidak dibenarkan oleh adat dan dicerca oleh
masyarakat,” jawab ayahku sambil menatapku dengan ketidakpercayaan. “Aku serius
ayah. Aku tidak peduli dengan cercaan masyarakat. Aku hanya ingin bersekolah,”
Aku mencoba membujuk ayahku. Ayahku terdiam sejenak lalu ia menghela napas.
“Baiklah, ayah izinkan. Namun, dengan satu syarat. Kamu hanya harus fokus
bersekolah. Ayah tidak mengizinkan hal lain selain belajar dan bergaul dengan
teman-temanmu nanti,” jawabnya. Aku berteriak kesenangan dan langsung memeluk
ayahku.
Seminggu kemudian aku mulai bersekolah. Aku bersekolah di salah satu sekolah elit yang bernama Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah ini tak dibuka untuk umum, sekolah ini hanya dibuka untuk anak-anak keturunan Eropa, Negara Timur, dan anak Indonesia yang berasal dari keturunan bangsawan. Hari pertamaku bersekolah sangatlah menyenangkan. Aku bertemu dengan teman-teman baru yang berasal dari Eropa dan Timur asing. Namun, seperti yang ayahku katakana, aku tidak menemukan seorang pun perempuan Jawa yang menempuh pendidikan di sekolah ini. Aku hanya melihat beberapa pribumi yang merupakan laki-laki. Sekolah ini menggunakan bahasa Belanda menjadi bahasa utama dan wajib. Pada awalnya aku cukup kesulitan untuk mengikuti temanku yang fasih berbahsa Belanda karena memang berasal dari Belanda. Namun, setelah beberapa waktu, bahasa belanda menjadi salah satu mata pelajaran yang aku sukai di sekolah.
Beranjak
remaja, keisenganku belum hilang. Suatu kali, aku memiliki guru privat bahasa
Jawa yang dipanggil Pak Danu. Aku dan adikku sering meminta Pak Danu membelikan
makanan kesukaan kami, pecel daun semanggi. Cara ini dilakukan untuk
menghindari pelajaran. Belakangan, trik jahil ini diendus sang ayah. Kami
dimarahi dan Pak Danu diganti guru lain.
Pada
suatu ketika, di sekolah, di waktu berhenti, aku melihat salah seorang kawanku
yang sedang asyik belajar bahasa Prancis, karena hendak peri ke negeri Belanda,
meneruskan pelajarannya di sekolah guru. “Apa yang ingin kau lakukan setelah
lulus, Kartini?” Tanya kawanku yang sedang asyik belajar bahasa Prancis. “Aku
masih tidak tahu,” jawabku. Pertanyaan
kawanku itu tiada hendak hilang-hilang dari ingatanku. Sedatangnya di rumah,
aku bertanya kepada ayahku. Kebetulan datang salah seorang saudaraku yang
dengan segera mengatakan, "Apa lagi, jika tidak menjadi Raden Ayu."
Aku girang mendengar jawab itu, tetapi belum tahu apa maksud "Raden Ayu"
itu. Diawas- awasinya keadaan di sekelilingku, tampaklah dia beberapa banyak
Raden Ayu, kemudian aku menyelidiki keadaannya. Setelah menyelidiki, aku
mengetahui banyak tentang nasib seorang Raden Ayu, karena itu timbullah semangat
dalam hatiku, tidak suka menjadi Raden Ayu, tidak suka menikah dengan orang
yang belum dikenalnya.
Setelah
3 tahun bersekolah, aku menjadi siswa unggulan di sekolah. Aku selalu
mendapatkan peringkat 1 di sekolah. Namun, suatu hari datanglah seorang murid
baru. Ia merupakan seorang pribumi sepertiku. Namanya adalah Agus Salim. Kami
berada di satu kelas yang sama. Di hari yang bersamaan, saat pelajaran IPA,
guruku bertanya kepada seluruh murid di kelas itu. “Anak-anakku, apakah di
antara kalian ada yang tahu mengapa langit berwarna biru?” Semua teman-teman
langsung mengarah ke arahku seperti menunggu aku menjawab pertanyaan tersebut
karena aku memang selalu menjawab pertanyaan dari guru. Namun, aku benar-benar
tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Tiba-tiba
aku mendengar ada suara kursi yang bergeser. “Partikel gas memantulkan cahaya
matahari ke segala arah. Cahaya biru memantul paling banyak karena cahaya
berwarna biru memiliki panjang gelombang yang paling pendek dengan frekuensi
yang lebih tinggi. Inilah alasan kenapa kita melihat langit berwarna biru,”
jawab Agus Salim kepada guru sambil berdiri. Mendengar jawaban itu, guruku
tersenyum. “Bagus sekali, Agus. Jawaban kamu sangatlah benar,” kata guru.
Mendengar perkataan itu, aku merasa sedikit terganggu karena biasanya
kepadakulah guru-guru berkata seperti itu.
Setelah
itu, aku dan Agus Salim selalu menjadi saingan. Bukan hanya di kelas, tetapi di
satu sekolah. Aku belajar dengan giat karena takut posisiku sebagai siswa
unggulan direbut olehnya. Dan benar saja, pada tahun ke-4 aku bersekolah, Agus
Salimlah yang mendapatkan peringkat pertama. Hal tersebut tidak membuatku
menyerah, justru hal ini membuatku semakin giat belajar. Akhirnya, pada tahun
terakhir sekolah, aku lulus sebagai murid dengan prestasi terbaik. Karena hal
itu, guruku menawariku untuk bersekolah ke Belanda. Namun, ayahku tidak meberi
izin dan aku tak kuasa untuk melawan.
Setelah
aku berumur 12 tahun. Setamatnya aku dari Europeesche
Lagere School (ELS), aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke
Semarang, di Hoogere Burgerchool (HBS).
Namun, semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencanaku. Aku terpaksa harus
membuang semua cita-cita dan rencanaku melanjutkan sekolah untuk menjalani masa
pingitan. Karena menurut tradisi Jawa, anak perempuan harus tinggal di rumah sejak
usia 12 tahun hingga menikah. Aku memohon sampai bersujud pada ayah untuk
meneruskan sekolah ke Semarang. Namun, ayah, meski sedih, tetap mengatakan
tidak. Masa ini terasa seperti penjara bagiku. Aku tidak bisa bergaul dengan
selama masa pingitan ini. Hidupku yang masih muda dipaksa untuk memahami
persoalan-persoalan yang sebenarnya belum layak menjadi perhatianku. Dari
kehidupan bocah yang bebas merdeka, menjadi hukuman dengan peraturan-peraturan
yang mengekang, dan memaksaku menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun aku tidak
menyerah begitu saja.
Dalam pingitan ini, aku belajar sendiri tanpa guru. Karena aku bisa berbahasa Belanda, maka di rumah aku mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungku. Selama masa ini, aku juga mulai rajin membaca buku dan mengasah pikiran. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, aku tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginanku untuk memajukan perempuan pribumi, karena aku melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Rosa Abendanon memberi pengaruh yang besar terhadap pemikiranku. Ia membuka pemikiranku terhadap emansipasi wanita. Aku menumpahkan segala pemikiran, cita-cita, da nisi hatiku melalui ratusan lembar surat yang kutulis dengan tanganku sendiri.
Suatu
hari, aku mengutarakan perasaan dan gagasanku dalam mengecam adat kolot kepada
Soelastri, kakak perempuan tertuaku. Namun Soelastri yang sangat konservatif
tidak bisa menerima pemikiranku. Ia dengan ketus menjawab, “Masa bodoh! Aku sih
orang Jawa!” Menurut Sitisoemandari, meski kejadian tersebut merenggangkan
hubungan kami, tetapi aku tidak kapok. Aku bahkan berkali-kali kena damprat Slamet,
kakak laki-laki tertuanku, akibat menolak berjalan jongkok dan menunduk saat
bertemu saudara-saudaraku yang lebih tua. Hanya Roekmini dan Kardinah yang
memahami isi kepala dan hati diriku. Bersama-sama kami membaca dan
mendiskusikan buku-buku tentang Revolusi Prancis dan sastra Eropa klasik. Kami
bertiga juga belajar membatik dari Raden Ayu Moerjam. Pengetahuan seputar batik
kemudian aku tuangkan ke dalam karangan De
Batikkunst in Indiƫ (Seni Batik di Hindia). Tulisan itu lantas dikirim ke
Belanda bersama beberapa helai kain batik untuk diikutkan dalam Nationale Tentoonstelling voor Vrouwenarbeid
(Pameran Karya Wanita) di Den Haag pada 1898.
Memasuki usia 16 tahun, aku dibebaskan dari masa pingitan. “Saya tidak akan kawin selama-lamanya. Ibu tahu itu, bukan?” Kalimat itu aku ucapkan saat sedang giat-giatnya kursus privat bahasa Inggris dan Prancis kepada Marie Ovink-Soer, istri asisten residen Jepara. Kepada nyonya Ovink-Soer pula aku mengeluarkan segala keluh kesahku. “Mengapa tidak ada satupun lelaki di zaman ini yang benar-benar menjunjung perempuan? Menikah hanya akan membunuh cita-citaku memerangi adat kolot yang mengakar dalam kehidupan bangsawan Jawa,” keluhku pada nyonya Ovink-Soer. Masa pingitanku memang termasuk cukup lama dibandingkan kakak dan adik-adikku. Akibat berulang kali menolak menikah, masa pingitanku sempat ditambah dari dua menjadi empat tahun. Lalu ditambah lagi menjadi total enam tahun.
Aku banyak membaca surat kabar Semarang De
Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, Aku juga menerima leestrommel (paket majalah yang
diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan
dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Aku pun kemudian
beberapa kali mengirimkan tulisanku dan dimuat di De Hollandsche Lelie, salah satunya berjudul “Upacara Perkawinan
pada Suku Koja” yang terbit di Holandsche Lelie ketika aku berusia 14 tahun. Melalui
majalah ini, aku memperoleh sahabat pena pertamaku, yaitu Stella Zeehandelaar. Stella
adalah seorang yahudi dan anggota militan pergerakan feminis di negara Belanda.
"Saya merindukan untuk berkenalan dengan seorang 'gadis modern', gadis
yang bangga, merdeka, yang merebut simpati saya. Gadis yang bahagia dan
mandiri, pekerjaannya bukan hanya untuk kesejahterannya sendiri, tetapi untuk
kebaikan seluruh umat manusia."
Aku mengungkapkan kepada Stella Zeehandelar mengenai buruknya sistem kepegawaian dan pendidikan yang dijalankan pemerintah. Aku mengungkapkan rasa jengkelku terhadap pemerintah yang kurang memperhatikan dunia Pendidikan. Aku merasa pemerintah sengaja membatasi pendidikan untuk rakyat karena takut nanti tidak ada lagi orang yang mengerjakan sawah dan ladang. Aku juga memiliki keyakinan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk yang sama, hanya bentuknya yang berbeda. Karena itu, kedudukan mereka tidak boleh dibeda-bedakan. Dan aku menuliskan dengan yakin bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa.
Aku
juga mengungkapkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu
tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan
laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Aku
menyampaikan banyak kritik, termasuk mengenai praktek poligami yang masih kerap
dilakukan di kalangan ningrat Jawa. Hal penting yang menjadi perhatianku terhadap
kasus poligami adalah faktor paksaan dari orang tua agar putrinya mendapatkan
suami dari kaum bangsawan. Masyarakat Jawa kebanyakan pada waktu ini memang
mengharapkan putrinya disunting pria ningrat demi meningkatkan derajat dan
taraf hidup keluarga. Menurutku, gadis-gadis tersebut tidak dapat dipersalahkan
karena pada umumnya mereka merupakan anak-anak dari keluarga biasa atau rakyat
jelata. Mereka berangan-angan mendapat kemewahan, kehormatan, dan kenikmatan
duniawi lainnya. Menikah dengan pria bangsawan merupakan anugerah yang membuka
jalan bagi mereka untuk mobilitas sosial secara vertikal.
Melalui Stella Zeehandelaar dan majalah De Hollanse Lelie, aku mengenal seorang insinyur pengairan yang pernah bertugas di Jawa, yakni Ir. Henri Hubert van Kol. Henri sering berhubungan dengan orang Jawa dan melihat ketimpangan dan kemiskinan salah satu bangsa jajahan negaranya, dan dituangkan dalam tulisan. Aku kenal dengan Henri van Kol dan istrinya, Nellie van kol-Porrey melalui majalah De Hollanse Lelie. Mereka mempengaruhiku dalam soal kemiskinan dan masyarakat Jawa di sekitar kehidupanku.
Perhatianku
tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Aku
melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan
hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang aku
baca, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya
Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de
Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van
Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder
(Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Semakin
dewasa, pemikiranku semakin matang. Bacaan-bacaanku menjadi sangat luas, yang
menambah cakrawala pengetahuanku mengenai pandangan dunia, Hak Asasi Manusia
(HAM), serta keadilan yang diperuntukkan bagi semua. Aku melihat perjuangan
perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai
bagian dari gerakan yang lebih luas.
Melihat
kondisi ini, aku berencana untuk mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi. Dan
tentu saja aku dapat melakukan ini hanya dengan izin ayahku. Aku menemui ayahku
yang sedang sibuk bekerja dan mencoba untuk berbicara dengannya. “Ayah, aku
merasa bahwa salah satu alasan untuk meningkatkan martabat bangsa dan khusunya
perempuan pribumi adalah pendidikan. Pendidikan perempuanlah yang harus menjadi
landasan atau sendi yang kuat untuk mencapai hal tersebut,” ucapku. “Ya, ayah
setuju dengan itu. Namun, mengapa kamu berbicara seperti itu, anakku?” Tanya
ayah. “Jadi, aku ingin mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi,” jawabku pada
ayah. Mendengar perkataanku, ayah langsung tersenyum lalu mengangguk. “Ya, ayah
izinkan. Namun, kamu harus menempuh pendidikan guru terlebih dahulu” kata ayah.
“Baik, Ayah. Terima kasih banyak,” ucapku seraya memeluk ayahku.
Namun,
saat aku sedang mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk sekolah yang akan
aku dirikan, Ayahku jatuh sakit. Aku mengurus ayahku setiap hari. Membawakannya
makanan, membantunya membersihkan badannya, mengambilkan obat dan membantunya
untuk meminumnya, dan juga menjaga ayahku selama ia tertidur. Karena hal ini,
persiapan yang aku lakukan untuk sekolah yang akan aku dirikan menjadi
terbengkalai. Rencanaku untuk mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi dan
juga menjadi guru gagal.
Hal
ini tidak membuatku menyerah. Aku bertekad untuk menjadi dokter. Aku
mengungkapkan keinginanku untuk menjadi dokter kepada ayahku. Ayahku setuju
dengan tekadku dan mengajukan beasiswa kepada pemerintah Hindia Belanda. Selain
aku, adikku, Roekmini juga ingin menempuh pendidikan ke Belanda.
Stella
Zeehandelaar, kawan penaku, menyarankan kepada Ir. H. H. van Kol (anggota
parlemen Belanda yang satu partai dengan Stella) agar mengunjungi putri-putri
Bupati Sosroningrat. Ia menjelaskan bagaimana keinginanku dan adikku, Roekmini
untuk bisa belajar ke Belanda.
Pada 20 April 1902, van Kol yang didampingi wartawan De Locomotief, Stoll, tiba di Jepara dan disambut dengan sangat ramah oleh keluarga Bupati Jepara. Di sinilah aku memiliki untuk berbincang dengan van Kol, sekaligus membicarakan beasiswa itu. Aku diminta untuk segera membuat surat permohonan. Berkat peran Van Kol memperjuangkan beasiswaku dalam sidang Tweede Kamer pada 26 November 1902, Menteri Seberang Lautan A. W. F. Idenburg menyetujui untuk memproses beasiswa tersebut.
Kendati jalan sudah terbuka, tetapi aku batal untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda karena alasan politis. Alasan inilah yang menjadikanku kembali memilih berkorban demi ketentraman keluarga dan mengorbankan pamrih pribadi. Lantas ketika beasiswa dari Belanda akhirnya benar-benar datang, aku memperoleh beasiswa sebesar 4.800 gulden. Namun dengan berat hati, aku menolak beasiswa itu dengan alasan akan menikah. Aku menyarankan supaya Agus Salimlah yang berangkat karena selama pengalamanku bersekolah, dia adalah teman yang cerdas dan pintar dan aku yakin dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Van Kol memberi tahu bahwa Rukmini akan diberi kesempatan untuk belajar di Negeri Belanda. Hal ini membuat hatiku yang asalnya sedih menjadi terhibur mendengar berita tersebut.
Selama
empat tahun melakukan korespondensi seputar feminisme dan pergerakan perempuan
di Eropa dengan sahabat-sahabat penaku, pemikiranku tentang emansipasi orang
Jawa pun semakin matang. Aku percaya untuk memerangi adat feodal yang kolot
harus dimulai dengan jalan memberikan pendidikan kepada perempuan Jawa.
Becermin kepada kedua ibuku, Aku menganggap pengaruh psikologis ibu kepada anak
sangat penting dalam mendidik jiwa seseorang. Pemikiran ini aku tuangkan dalam
nota panjang setebal 19 halaman yang dikirimkan kepada Menteri Seberang Lautan
Alexander Willem Frederik Idenburg dan Gubernur Jenderal Willem Rooseboom pada
awal tahun 1903. “Perempuan Jawa harus dididik, harus diberi pelajaran, harus
turut serta dalam pekerjaan raksasa: pendidikan bangsa yang berjuta-juta,”
tulisku dalam satu petikan notanya.
Pada
tanggal 25 Januari 1903, Abendamon berkunjung ke Jepara dan menasihatiku supaya
menghilangkan mimpi untuk belajar ke Belanda, karena akan merugikan
cita-citaku. Abendanon mengirim seorang guru bahasa untuk membujukku. Annie Glasser
diminta oleh Abendanon ke kabupaten Jepara untuk mengamati dan mengikuti
perkembangan pemikiranku. Dengan menggunakan diplomatis psikologis tingkat
tinggi, hal ini sangat mudah dilakukan oleh Abendanon karena ia menempatkan
Annie Glasser sebagai mata-matanya. Aku menyetujui nasihat Abendamon. Hal ini
mebuatku mengalami perubahan rohani. Aku merasa tawakal dan sudah percaya
kepada Allah.
Atas ajakan Abendanon, aku mengirim rekes kepada pemerintah supaya diberi kesempatan untul belajar di Betawi menjadi guru. Di samping itu, Abendanom menasihatiku untuk tidak menunggu balasan pemerintah dan kembali meneruskan persiapanku untuk mendirikan sekolah sendiri. Maka aku dan adikku, Kardinah, mulai mendirikan sekolah. Muridnya tidak banyak, hanya kerabat dan teman-temanku. Pada awalnya sekolah anak perempuan pertama ini hanya memiliki lima orang murid. Satu bulan kemudian bertambah menjadi tujuh orang murid. Mereka datang dari lingkungan keluarga priayi Jepara. Bahkan, ada pula yang datang jauh dari Karimunjawa. Mereka kuajari menjahit, memasak, menyulam, dan Bahasa Jawa. Sekolah tersebut berjalan dengan lancar dan membuat diriku senang.
Memasuki
usia 24 tahun, aku menyadari bahwa usahaku untuk bersekolah lagi tak akan
pernah terlaksana. Sekitar tanggal 7-24 Juli 1903, balasan dari rekesku
datang. Namun, lagi-lagi aku harus
menolak kesempatanku untuk melanjutkan pendidikanku. Karena tiba-tiba Bupati
Sosroningat menerima utusan Bupati Djojoadhiningrat dari Rembang yang membawa
surat lamaran bagi diriku. Kabar lamaran itu diberitahukan secara hati-hati
oleh ayahku, Sosroningrat. Meski demikian, aku tetap terkejut. Kepada Roekmini,
aku mengutarakan keluh kesahku. “Ah, mengapa harus ada penghalang lagi di jalanku.
Ini sungguh aneh,” kataku pada adik tiriku, Roekmini.
Pada
awalnya aku sangat menentang hal ini, apalagi saat aku mengetahui bahwa calon
suamiku merupakan pria yang sudah menikah 3 kali. Istri pertamanya adalah
seorang Raden Ayu, dan sudah tutup usia. Sedangkan dua istri lainnya bukan dari
kalangan bangsawan. Dan sang Bupati ingin aku untuk menggantikan posisi
istrinya yang pertama. Karena aku melihat bagaimana ibuku diperlakukan ketika
ayahku memutuskan untuk menikah dengan bangsawan. Ibuku, Ngasirah, rela
berjalan membungkuk saat melewati diriku dan duduk di bawah mengikuti cara
hidup feodal Jawa dengan alasan hanya seorang selir. Hal ini pernah aku
ungkapkan pada sahabat pena pertamaku "Bagaimana saya bisa menghormati
seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila bosan pada
anak-anaknya, ia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara
sah sesuai dengan hukum Islam?" tulisku kepada Stella Zeehandelaar.
"Dapatkah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang perempuan
jika suaminya pulang bersama perempuan lain sebagai saingannya yang harus
diakuinya sebagai istrinya yang sah?" sambungku.
Melihat
sang ayah yang sudah sakit-sakitan membuatku merasa pernikahan adalah obat yang
paling ampuh. "Saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah dan dengan
demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai," tulisku pada surat.
Aku kemudian menyerah dan memutuskan untuk menerima lamaran meski hatiku
hancur. Karena rasa cinta dan baktiku pada ayah, akhirnya aku memutuskan untuk
menerima pinangan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat sebagai
istrinya. "Saya (kini) adalah tunangan Bupati Rembang, seorang duda dengan
tujuh anak dan dua istri (selir). Mahkota saya sudah lenyap dari dahi saya.
Sekarang saya tidak lebih sedikit pun dari sisanya," tulisku dalam sebuah
surat pada tanggal 10 dan 14 Juli 1903. "Saya seperti ribuan perempuan
lainnya yang hendak saya tolong, tetapi yang (ternyata) jumlahnya hanya saya
tambah saja," sambungku.
Akan tetapi, bukanlah diriku jika tanpa perjuangan atas hak-hak perempuan. Aku mengajukan syarat agar mau dinikahi Adipati Djojoadiningrat. Aku meminta ayahku mengizinkan aku mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan, diperbolehkan mengajar, dan menggapai cita-citaku untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Aku tak mau melakukan prosesi adat berjalan jongkok, berlutut, dan menyembah kaki suami. Hal ini adalah bentuk keputusanku yang menginginkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Aku juga mengajukan permintaan agar ibuku bisa masuk ke pendopo. Terakhir, aku akan berbicara bahasa Jawa ngoko, bukan kromo inggil, kepada suamiku untuk menegaskan bahwa seorang istri harus sederajat. Syarat-syarat tersebut dipenuhi oleh K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat sehingga aku merelakan diri dipoligami dan dijadikan istri ke-4. Kesediaanku menikah dengan Bupati Rembang diperkuat saat mendengar bahwa ia pernah belajar di negeri Belanda dan berusaha keras ingin memajukan rakyat.
Pada
tanggal 8 November 1903 Aku resmi menjadi istri Bupati Rembang, K. R. M.
Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat. Alasan K. R. M. Adipati Ario Singgih
Djojoadhiningrat melamarku juga disebakan oleh keinginan istri pertamanya, Sukarmilah,
sebelum meninggal. Sukarmilah mengagumi diriku dan pemikiran-pemikiranku
sehingga meminta Ario Singgih menikahiku agar anak-anak mereka mendapatkan
pendidikan yang baik. Prosesi pernikahanku dan K. R. M. Adipati Ario Singgih
Djojoadhiningrat terbilang seadanya. Aku hanya memakai untaian bunga melati
tanpa baju pengantin. Aku juga tak berlutut dan mencium kaki suamiku
sebagaimana syarat yang aku ajukan sebelum menerima lamaran K. R. M. Adipati
Ario Singgih Djojoadhiningrat.
Tiga hari menikah, aku kemudian dibawa oleh sang suami ke Rembang. Aku pun berkumpul dengan dua istri lainnya dan anak-anak tirinya. Sekolah yang pernah aku rintis dahulu bersama adikku, Kardinah di Jepara sekarang aku lanjutkan di Rembang. Sekolah ini didirikan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. R. M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat mendukung cita-citaku, yaitu memajukan rakyat, khususnya kaum wanita dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak wanita yang masih kecil seperti yang pernah dilaksanakan diriku di Kabupaten Jepara. Kegiatan belajar mengajar ini dipimpin oleh seorang perempuan Belanda. Aku juga mendatangkan para pengukir kayu dari Jepara untuk sekolah pertukangan bagi anak laki-laki. Aku tetap melanjutkan perjuanganku untuk memajukan pendidikan orang pribumi.
Selain
didukung oleh suami, akupun turut mendukung segala usaha yang dilakukannya. Suamiku,
Djojodiningrat tergolong laki-laki Jawa yang cukup modern, juga prihatin
tentang kesejahteraan rakyat. Aku mendukung langkah suamiku memberantas candu
yang bertentangan dengan anggota Dewan Hindia. "Tengoklah, jadi bukannya
rakyat yang tak mau berhenti mengisap candu, tapi pemerintah, Pahit, tapi
benar, kutuk terhadap orang Jawa adalah suatu kekuatan hidup bagi
pemerintah," tulisku kepada Ny Abendanon, 10 Agustus 1904.
Setelah menikah dan menjadi istri Bupati, keseharianku tak jauh dari mengurus suami dan anak tiriku. Aku juga mengaku pada nyonya Ovink-Soer “bermimpi menjadi ibu orang banyak.” Oleh karena itu, aku bersedia mengasuh dan mendidik ketujuh anak dari para garwa ampil Djojodiningrat seperti anakku sendiri. Kepada Marie Ovink-Soer pula pada tahun 1903 aku menulis: “Sayap saya tidak akan dipotong; bahkan sebaliknya, akan menjadi lebih besar dan kuat sehingga saya kembangkan lebar-lebar.”
Periode
kehidupanku di Rembang menjadi masa kemunduranku. Aku tidak lagi memiliki
banyak waktu untuk berpartisipasi dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak
seperti yang dahulu selalu aku lakukan di Jepara. Surat-surat yang aku tuliskan
juga kebanyakan berisi pujian kepada suamiku dan ungkapan kegembiraan karena
dapat mengurus anak-anak tiriku. “Di rumah orang tua saya dulu, saya sudah tahu
banyak. Tetapi di sini, di mana suami saya bersama saya memikirkan segala
sesuatu, di mana saya turut menghayati seluruh kehidupannya, turut menghayati
pekerjaannya, usahanya, maka saya jauh lebih banyak lagi menjadi tahu tentang
hal-hal yang mula-mula tidak saya ketahui. Bahkan tidak saya duga, bahwa hal
itu ada,” tulisku kepada Nyonya Abendanon, 10 Agustus 1904). Kebahagianku ini makin
bertambah karena aku telah berbadan dua.
Namun,
penderitaan datang ketika aku yang sedang hamil muda mengetahui bahwa suamiku, R.
M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat memelihara dua orang gundik pelacur.
Sejak saat itu, aku tak lagi menulis surat, memilih menyendiri, dan menolak
untuk tidur bersama suamiku sebagai bentuk perlawanan. Hal ini membuatku jatuh
sakit.
Aku yang berada dalam keadaan hamil tua masih bisa menuliskan surat-surat. Aku menuliskan bahwa aku sudah menyiapkan sudut untuk si bayi dan tempat tidurnya saat ia harus mengajar.
Pada
tanggal 13 September 1904, di tengah kondisiku yang sedang sakit, aku
melahirkan putra pertamaku yang diberi nama Raden Mas Soesalit yang kemudian
diasuh oleh Ibunda Ngasirah dan Bok Mangunwikromo. Pada tanggal 17 September,
Dr. van Ravesteyn datang untuk memeriksakan keadaanku. Namun, aku dalam keadaan
baik dan tidak mengkhawatirkan. Tidak lama setelah sang dokter meninggalkanku,
tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutku. Ravesteyn pun
langsung bergegas datang kembali.
Menurutnya, perubahan kesehatanku terjadi dengan sangat drastis dan mendadak. Setengah jam kemudian, dokter tidak bisa menyelamatkan nyawaku. Aku wafat usia 25 tahun, Aku dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang, Jawa Tengah. Kematianku yang tiba-tiba sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Banyak yang mengira bahwa aku telah diguna-guna, dibunuh, bahkan diracuni. Meski begitu, pihak keluargaku tidak ingin menggali permasalahan ini lebih dalam dan menyatakan bahwa aku meninggal setelah melahirkan anak pertamaku.
Aku
meninggal dunia dengan keadaan bahagia seperti yang sebelumnya kutulis kepada
Nyonya Abendanon: "'Walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan
itu, walaupun saya akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia.
Jalan sudah terbuka dan saya telah turut merintis jalan yang menuju kebebasan
dan kemerdekaan perempuan Bumiputra."
Meskipun aku tidak dikaruniai umur panjang, tetapi dalam jangka umur yang pendek ini aku sudah menulis 246 surat yang tersimpan di luar negeri. Surat-surat ini aku tulis sejak 25 Mei 1899 sampai 7 September 1904. Dari surat sejumlah itu, kemudian 155 surat terhadap teman-teman korespondensiku yang berasal dari Belanda, dikumpulkan dan dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon yang saat ini menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku ini diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan suratku ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat diriku.
Dengan surat-surat yang aku tulis, aku berharap hal ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, menggerakkan setiap hati siapapun yang membaca suratku, sekaligus dapat menjadi amunisi bagi pergerakan wanita Indonesia.
